
Jakarta, 13 Februari 2026 — Audiensi yang berlangsung penuh kehangatan antara elemen pemuda Betawi dan jajaran Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jakarta menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi budaya sekaligus pengawasan kebijakan penyiaran di era digital.

Dalam sambutan pembukaannya, Ketua KPID Jakarta, Ahmad Sulhy, menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menghadapi perkembangan ekosistem digital. Ia menyebut pemuda Betawi memiliki potensi besar untuk mengangkat budaya Betawi melalui ruang digital sekaligus mengawal RUU Penyiaran agar tetap berpihak pada nilai budaya dan kepentingan masyarakat.
“Pemuda Kaum Betawi bisa mengangkat budaya Betawi dalam ranah digital sekaligus mengawal RUU Penyiaran agar tetap berpihak pada nilai budaya dan kepentingan masyarakat,” ujar Ahmad Sulhy.
Ia menekankan bahwa ruang digital bukan hanya medium hiburan, tetapi juga menjadi ruang perjuangan identitas dan pelestarian budaya. Menurutnya, keterlibatan aktif pemuda Betawi dalam produksi konten kreatif dan pengawasan regulasi merupakan bagian dari tanggung jawab moral generasi penerus.
Sementara itu, H. Masykur Isnan turut menyampaikan apresiasi atas terbukanya ruang dialog antara pemuda dan lembaga penyiaran daerah. Ia menegaskan kolaborasi harus diwujudkan dalam langkah nyata agar pelestarian budaya Betawi tidak berhenti pada simbol, tetapi juga kuat dalam sistem dan regulasi.
“Kolaborasi ini jangan berhenti di meja audiensi. Harus ada langkah konkret agar budaya Betawi tidak hanya lestari secara simbolik, tetapi juga kuat secara sistem dan regulasi,” tegasnya.
Ia menambahkan pemuda Betawi memiliki posisi strategis sebagai penjaga nilai budaya sekaligus agen perubahan di tengah transformasi digital.
Audiensi berlangsung konstruktif dengan pembahasan mengenai penguatan literasi media, peluang kolaborasi program budaya, serta partisipasi aktif dalam pengawalan RUU Penyiaran agar tetap berpihak pada kepentingan publik dan kearifan lokal.
Suasana kembali hangat menjelang penutup audiensi ketika Baba Akbar selaku Ketua Majelis Ta’lim Pemuda Kaum Betawi menyampaikan pantun khas Betawi yang sarat makna kolaborasi.
Masak udang sampai matang
Udang dicampur dengan cumi
Tujuan kami sengaja datang
Bukan sekadar bersilaturahmi
Kalo udang dicampur cumi
Jangan lupa sambel terasi
Kalo udah bersilaturahmi
Semoga terjalin kolaborasi
Pantun tersebut menjadi simbol bahwa pertemuan ini bukan sekadar agenda formal, melainkan awal dari komitmen bersama untuk membangun sinergi nyata antara pemuda Betawi dan KPID Jakarta dalam menjaga budaya serta mengawal ruang penyiaran ke depan.
Tidak ada komentar