Sagu Salor Mulai Dijajaki untuk Mendukung MBG, Tim Patriot IPB Soroti Inovasi Olahan Pangan Lokal (Part 2)

4 menit membaca View : 28
REDAKSI EKSEKUTIF
Nasional, News Redaksi - 22 Agu 2026

MERAUKE, PAPUA SELATAN – Pemanfaatan pangan lokal dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang bagi sagu Salor untuk dikembangkan sebagai salah satu alternatif bahan pangan.

Peluang tersebut menjadi perhatian Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University saat melakukan penjajakan dengan pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Merauke.

Penjajakan dilakukan dengan mendatangi SPPG Merauke Mandala 2 dan SPPG Merauke Mandala 3. Tim menggali informasi mengenai pola penyusunan menu, kebutuhan dapur, karakteristik penerima manfaat, serta kemungkinan sagu Salor diolah menjadi produk yang dapat diterapkan dalam skema MBG.

Kapasitas pelayanan kedua SPPG tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai skala kebutuhan pangan. SPPG Merauke Mandala 2 memproduksi sekitar 3.061 porsi makanan per hari bagi sembilan kelompok penerima manfaat. Sementara Mandala 3 melayani sekitar 2.900 penerima manfaat dari tujuh sekolah dan dua Posyandu.

Kondisi tersebut membuat penggunaan komoditas baru membutuhkan perencanaan matang. Dapur tidak hanya membutuhkan bahan pangan yang bergizi, tetapi juga bahan yang mudah diperoleh, dapat diproses sesuai kapasitas produksi, serta memiliki tingkat penerimaan yang baik di kalangan penerima manfaat.

Dalam dialog, pengelola SPPG menyebut pemanfaatan pangan lokal telah diarahkan dalam penyelenggaraan MBG. Sejumlah komoditas seperti singkong, berbagai jenis umbi dan sayuran lokal telah digunakan dalam menu yang disajikan.

Sementara sagu belum menjadi pilihan utama karena karakter pengolahannya dinilai membutuhkan waktu lebih panjang. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan yang perlu dijawab apabila sagu Salor ingin dikembangkan untuk kebutuhan produksi dalam jumlah besar.

Meski demikian, pihak SPPG tidak menutup kemungkinan melakukan percobaan. Inovasi bentuk makanan dinilai menjadi kunci agar sagu dapat lebih mudah diterima, khususnya oleh anak-anak yang memiliki selera berbeda terhadap makanan.

“Dari pusat memang ada arahan untuk membuat menu pangan lokal. Selama ini kami menggunakan umbi-umbian dan sayuran, seperti singkong. Kalau menggunakan sagu, proses pengolahannya membutuhkan waktu yang lebih lama,” ungkap pihak SPPG.

Perbedaan selera penerima manfaat menjadi pengalaman penting bagi pengelola dapur. Sejumlah menu seperti telur, ayam dan daging relatif banyak diminati. Namun, penerimaan terhadap ikan maupun makanan lokal dapat berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya.

Sebagian sekolah bahkan menilai pangan lokal sudah terlalu umum dalam konsumsi sehari-hari sehingga kurang menarik ketika kembali hadir dalam menu MBG. Sebaliknya, terdapat sekolah yang meminta agar bahan pangan lokal lebih sering dimanfaatkan.

Karena itu, sebelum menu baru diterapkan, tingkat penerimaannya perlu diuji. Pihak SPPG menyampaikan bahwa kuesioner dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai respons penerima manfaat terhadap menu yang akan dikembangkan.

“Nanti perlu kami coba dulu. Sebelum menjadi menu, kami perlu mengetahui apakah mereka berkenan atau tidak,” ujar pihak SPPG.

Sagu juga belum pernah digunakan sebagai menu utama di SPPG Mandala 2 maupun Mandala 3. Selain persoalan selera, proses pengolahan menjadi pertimbangan tersendiri karena kedua dapur memiliki beban produksi yang cukup besar setiap harinya.

“Kami belum pernah membuat menu sagu. Selama ini lebih banyak menggunakan umbi. Sebenarnya pernah terpikirkan, tetapi kami masih mencari bentuk olahan yang lebih kreatif. Sagu harus dicoba terlebih dahulu untuk melihat penerimaannya,” kata pihak SPPG.

Koordinator Pengawas Dapur SPPG Provinsi Papua Selatan, Ibu Sadika, menambahkan bahwa inovasi pangan lokal tetap harus berada dalam koridor standar gizi dan kesehatan. Penyusunan menu perlu mengacu pada rekomendasi ahli gizi serta dikoordinasikan bersama Dinas Kesehatan.

Persoalan teknis lainnya juga tidak dapat diabaikan. Sistem distribusi, jarak menuju sekolah, perbedaan jam pelayanan, jumlah tenaga dapur, hingga lama proses produksi harus dihitung agar inovasi sagu tidak menimbulkan hambatan dalam pelayanan MBG.

Dari hasil penjajakan tersebut, Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University melihat peluang pengembangan sagu Salor masih cukup terbuka. Namun, komoditas tersebut membutuhkan sentuhan inovasi agar dapat memenuhi kebutuhan produksi skala besar sekaligus memiliki daya tarik bagi penerima manfaat.

Pengembangan dapat diarahkan pada penciptaan produk turunan sagu yang lebih praktis, mudah disajikan, memiliki kandungan gizi yang sesuai, serta mampu mempertahankan karakter pangan lokal.

Tahapan uji coba nantinya menjadi penting untuk melihat bagaimana respons penerima manfaat sekaligus mengukur kemampuan dapur dalam memproduksi olahan sagu secara konsisten.

Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University mendorong agar proses tersebut dilakukan melalui kerja sama lintas pihak, mulai dari masyarakat pengelola sagu, SPPG, ahli gizi, Dinas Kesehatan hingga pemangku kepentingan terkait.

Jika inovasi tersebut berhasil, sagu Salor berpotensi memiliki peran lebih luas. Selain mendukung diversifikasi menu MBG, pengembangannya dapat membuka peluang peningkatan nilai tambah komoditas lokal sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat Papua Selatan dalam rantai pangan program nasional.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS