Puluhan Ribu Jamaah Hadiri Jakarta Bersholawat, Pesan Pilah Sampah Menggema di Monas

4 menit membaca View : 45
REDAKSI EKSEKUTIF
News Redaksi - 22 Agu 2026

JAKARTA – Majelis Nurul Musthofa menggelar Jakarta Bersholawat di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (22/8/2026) malam. Puluhan ribu jamaah dari berbagai penjuru Jakarta hadir dalam kegiatan tersebut bersama perwakilan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Di tengah lantunan sholawat dan tausiyah, isu kebersihan lingkungan menjadi salah satu pesan yang disampaikan kepada jamaah. Majelis Nurul Musthofa menyatakan dukungannya terhadap kebijakan Pemprov DKI Jakarta terkait gerakan pemilahan dan pengolahan sampah.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya menandatangani Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah. Kebijakan tersebut mendorong perubahan pola pengelolaan sampah dari sekadar kumpul, angkut, buang menjadi pilah, angkut, olah.

Melalui kebijakan itu, warga Jakarta diwajibkan memilah sampah ke dalam empat kategori, yakni organik, anorganik, residu, serta bahan berbahaya dan beracun (B3).

Mulai 1 Agustus 2026, TPST Bantargebang disebut hanya menerima sampah residu yang sudah tidak dapat diolah. Pemprov DKI Jakarta menargetkan penerapan zero dumping pada 2028.

Namun, tingkat pemilahan sampah di Jakarta hingga awal Agustus 2026 baru mencapai 23,14 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya kebutuhan partisipasi masyarakat dalam menjalankan kebijakan tersebut.

Dalam tausiyahnya, Al-Habib Athos Abdullah bin Al-Habib Hasan bin Ja’far Assegaf mengajak jamaah melihat persoalan sampah bukan semata-mata sebagai kewajiban administratif, melainkan bagian dari pengamalan ajaran Islam.

Ia mengingatkan bahwa kebersihan memiliki posisi penting dalam ajaran Islam. Salah satu hadis yang disampaikan adalah, “Ath-thuhuuru syathrul iimaan”, yang bermakna kebersihan merupakan sebagian dari iman.

Hadis lain yang dikutip berbunyi, “Innallaaha thayyibun yuhibbuth thayyib, nazhiifun yuhibbun nazhaafah”, yang bermakna Allah itu baik dan menyukai kebaikan serta bersih dan menyukai kebersihan.

Pesan tersebut juga diperkuat dengan firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 222 tentang kecintaan Allah kepada orang-orang yang menyucikan diri.

Dari persoalan kebersihan, tausiyah kemudian dikaitkan dengan kerusakan lingkungan. QS Ar-Rum ayat 41 disebut sebagai pengingat bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat perbuatan manusia.

“Zhaharal fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aydin naas,” demikian potongan ayat yang disampaikan.

Menurut Habib Athos, persoalan seperti banjir Jakarta, saluran air yang tersumbat, hingga sampah plastik di kawasan pesisir tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan takdir.

Ia mengajak masyarakat melihat adanya tanggung jawab manusia dalam menjaga lingkungan.

“Ya akhi, ya habibi, saudara-saudara semua. Malam ini kita berkumpul di Monas, jantungnya Jakarta, disaksikan Pemerintah Jakarta. Izinkan ana menyampaikan satu permintaan sederhana,” kata Habib Athos.

Ia kemudian meminta jamaah tidak meninggalkan sampah setelah acara selesai.

“Nanti setelah acara ini selesai, mohon dengan sangat, jangan tinggalkan satu pun sampah di lapangan ini. Botol air minum kalian, bungkus makanan kalian, plastik kalian, tolong dibawa pulang atau dibuang ke tempatnya,” ujarnya.

Habib Athos juga mengajak jamaah membiasakan pemilahan sampah dari rumah.

“Kalau bisa dipilah, pilah. Yang organik ke tempat organik, yang plastik ke tempat plastik,” lanjutnya.

Ia menekankan, kehadiran puluhan ribu jamaah di Monas tidak hanya menjadi momentum untuk bersholawat, tetapi juga kesempatan menunjukkan praktik keberagamaan melalui kepedulian terhadap lingkungan.

“Kita datang ke sini untuk bersholawat kepada Baginda Nabi ﷺ, jangan sampai kita pulang meninggalkan kotoran di halaman ibu kota,” katanya.

“Anak Betawi, anak Jakarta, pecinta Rasulullah, harus jadi contoh. Kalau majelis kita yang paling bersih setelah acara, itu bukti bahwa iman kita bukan hanya di lisan, tapi juga di tangan,” sambungnya.

Dalam tausiyah tersebut, menjaga kebersihan juga dikaitkan dengan konsep sedekah. Habib Athos mengingatkan bahwa sedekah tidak selalu harus dilakukan dengan memberikan uang.

Ia mencontohkan tindakan sederhana seperti menyingkirkan gangguan dari jalan maupun memilah dan membuang sampah pada tempatnya sebagai bentuk kepedulian sosial.

Di akhir acara, jamaah kemudian diajak memanjatkan doa bersama untuk Jakarta dan Indonesia. Doa tersebut berisi harapan agar Allah SWT memberikan keberkahan, keamanan, serta menjauhkan masyarakat dari berbagai mara bahaya.

Doa juga dipanjatkan untuk saudara-saudara di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan agar diberikan ketabahan serta segera dapat melewati kondisi yang tengah dihadapi.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS