
Jakarta – Ikatan Mahasiswa Jar Garia Jakarta (IMAJAR) bersama Keluarga Aru se-Jabodetabek menyerukan penyelesaian damai atas konflik yang terjadi antara dua desa di Kabupaten Kepulauan Aru dalam beberapa pekan terakhir.

Ketua Umum IMAJAR, Abraham Opem, meminta seluruh pihak terkait, mulai dari tokoh Lembaga Masyarakat Adat (LMA), tokoh pemuda, pemerintah daerah hingga aparat penegak hukum, segera mengambil langkah konkret untuk menghentikan konflik dan mencari solusi terbaik bagi kedua belah pihak.
“Dari Jakarta, kami menyuarakan perdamaian. Kami meminta seluruh pihak terkait agar segera mengambil langkah-langkah penyelesaian terhadap konflik yang terjadi antara dua desa yang saat ini sedang berselisih,” kata Abraham dalam keterangannya.
Menurutnya, penyelesaian konflik harus mengedepankan nilai-nilai kekeluargaan serta adat istiadat yang telah diwariskan para leluhur masyarakat Aru. Ia menegaskan bahwa semangat persaudaraan Ursia dan Urlima harus menjadi landasan utama dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi.
“Kami percaya setiap permasalahan dapat diselesaikan melalui musyawarah, dialog, dan semangat persatuan. Nilai-nilai adat yang telah diwariskan harus tetap dijaga sebagai jalan menuju perdamaian,” ujarnya.
IMAJAR juga meminta Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru dan Polres Kepulauan Aru untuk berperan aktif dalam memfasilitasi proses mediasi yang berlandaskan asas kekeluargaan dan persaudaraan antara masyarakat Ursia dan Urlima.
Melalui pendekatan tersebut, mereka berharap kedamaian, keamanan, dan keharmonisan dapat kembali terwujud di Bumi Jar Garia. Abraham juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu yang berkembang dalam beberapa pekan terakhir dan tetap menjaga persatuan serta kesatuan.
“Damai itu indah, persaudaraan lebih berharga daripada perpecahan,” tegasnya.
Pernyataan sikap tersebut disampaikan dalam pertemuan yang turut dihadiri sejumlah tokoh senior masyarakat Aru di Jakarta, yakni Mesak Paidjala, Yunus Labok, Gani Foar, Hamid, Bernadus, dan Heny Natasian. Kehadiran para tokoh senior tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap upaya penyelesaian konflik secara damai melalui pendekatan adat, kekeluargaan, dan semangat persaudaraan yang selama ini menjadi identitas masyarakat Kepulauan Aru.
Tidak ada komentar