Sagu Tambat Punya Potensi Besar, Warga Dorong Penguatan Teknologi dan Akses Pasar (Part1)

4 menit membaca View : 68
REDAKSI EKSEKUTIF
Nasional, News Redaksi - 16 Agu 2026

REDAKSIONLINE.CO.ID— Pengembangan sagu di Kampung Tambat, kawasan Salor, Papua Selatan, mulai diarahkan untuk menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Komoditas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk pangan dan usaha pendukung lainnya.

Pembahasan mengenai potensi itu berlangsung dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Tim Ekspedisi Patriot IPB University bersama masyarakat Kampung Tambat.

Dalam pertemuan tersebut, masyarakat menyampaikan kondisi pengolahan sagu sekaligus berbagai persoalan yang menghambat pengembangan usaha. Keterbatasan alat, pasokan air, kemampuan pengolahan produk dan pemasaran menjadi sejumlah isu yang mendapat perhatian.

Ketua Kampung Tambat, Samuel Haremba, mengatakan keberadaan Tim Ekspedisi Patriot IPB University diharapkan dapat membantu masyarakat mengembangkan potensi yang ada di kampung.“Selama mereka di sini, mereka akan membantu kita,” ujar Samuel.

Sagu Menjadi Bagian dari Kehidupan Masyarakat

Masyarakat Kampung Tambat telah mengenal sagu secara turun-temurun. Pengetahuan mengenai tanaman sagu dan pengolahan dasarnya telah menjadi bagian dari kehidupan warga.

Namun, pengembangan sagu menjadi produk dengan nilai tambah masih menghadapi keterbatasan pengetahuan dan teknologi.

Mama Siti, salah seorang warga, mengatakan masyarakat telah memahami sagu sejak lama, tetapi belum sepenuhnya mengetahui proses pengolahan lanjutan.

“Kami sudah lama mengenal dan memahami pohon sagu, tetapi masih belum paham terkait pengolahan sagu,” katanya.

Saat ini, sekitar tujuh warga masih aktif mengolah sagu. Proses produksi dilakukan dengan mengombinasikan metode manual dan mesin.

Mesin parut mulai digunakan sejak 2013. Selanjutnya, masyarakat menggunakan mesin berukuran lebih besar pada 2019 untuk membantu mempercepat proses produksi dan mengurangi beban kerja.

Sagu basah yang dihasilkan kemudian dipasarkan ke Pasar Wamanggu dan Ampera. Harga jual berada di kisaran Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per karung.

Namun, kegiatan produksi belum berjalan secara teratur. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh ketersediaan air dan permintaan pasar yang belum stabil.

Air Menjadi Faktor Penting

Ketersediaan air menjadi salah satu persoalan yang cukup krusial bagi masyarakat. Pada musim kemarau, proses pengolahan sagu menjadi pati mengalami hambatan karena sumber air semakin terbatas.

Kondisi serupa terjadi dalam pengembangan budidaya ikan lele. Warga harus mengambil air dari lokasi yang relatif jauh apabila kolam berada di luar kawasan yang dekat dengan rawa.

Meski demikian, masyarakat terus mencoba mengembangkan sumber ekonomi lain. Sawi dan ubi ditanam untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sekaligus dijual. Budidaya lele juga mulai dilakukan sebagai alternatif usaha.

Kegiatan tersebut masih menghadapi kendala berupa biaya pakan serta kebutuhan air yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Diversifikasi Produk Jadi Peluang

Masyarakat mulai mencoba meningkatkan nilai tambah sagu dengan membuat sejumlah produk turunan.

Beberapa produk yang telah dihasilkan antara lain sagu keju, sagu gulung dan pentol bakso menggunakan tepung sagu.

Inovasi tersebut menunjukkan bahwa sagu memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri pangan skala masyarakat.

Namun, pengembangan produk masih membutuhkan dukungan peralatan, peningkatan keterampilan serta jaringan pemasaran.

Selain produk utama, limbah pengolahan sagu juga dapat menjadi sumber nilai tambah. Ampas sagu yang tersedia dalam jumlah cukup besar berpotensi dimanfaatkan untuk media budidaya jamur maupun pakan ternak.

Pemanfaatan limbah tersebut membutuhkan dukungan teknologi dan pengetahuan agar dapat diterapkan secara efektif.

Warga Usulkan Dukungan Sarana Produksi

Dalam FGD, masyarakat menyampaikan sejumlah kebutuhan yang dianggap penting untuk memperkuat pengembangan ekonomi kampung.

Mereka mengusulkan dukungan berupa alat pengolahan sagu, pompa dan selang untuk kebutuhan air, bibit tanaman pangan, serta pengembangan budidaya lele.

Masyarakat juga berharap adanya dukungan pemasaran. Kepastian pasar dinilai penting agar peningkatan produksi dapat diikuti dengan peningkatan pendapatan.

Dari berbagai kebutuhan tersebut, terlihat bahwa pengembangan sagu tidak dapat dilakukan secara parsial.

Rantai ekonomi perlu dibangun dari hulu hingga hilir, mulai dari ketersediaan bahan baku, proses produksi, pengolahan produk turunan, pemanfaatan limbah, hingga pemasaran.

Dengan pendekatan tersebut, sagu dapat menjadi bagian dari ekosistem usaha yang melibatkan sektor pangan, pertanian, perikanan dan peternakan.

FGD di Kampung Tambat menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki modal dasar berupa pengetahuan lokal, sumber daya alam dan pengalaman produksi.

Tantangannya adalah memperkuat modal tersebut melalui teknologi tepat guna, sarana produksi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan akses pasar.

Jika dukungan tersebut dapat diwujudkan secara berkelanjutan, potensi sagu Kampung Tambat tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga dapat berkembang sebagai sumber pendapatan dan penggerak ekonomi lokal di kawasan Salor, Papua Selatan.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS