
MAKASSAR — Gedung Kesenian Societat de Harmonie menjadi saksi sebuah pertunjukan seni yang tak biasa pada Sabtu (13/6) malam. Sebanyak 15 penyandang disabilitas tuli yang tergabung dalam organisasi Gerkatin Makassar tampil dalam pertunjukan paduan suara bertajuk Gempata (Gema Tanpa Kata).

Penampilan tersebut langsung menarik perhatian publik. Sejak acara dimulai, antusiasme penonton terlihat tinggi. Hampir seluruh kursi di dalam gedung terisi, sementara rasa penasaran menyelimuti para hadirin yang ingin menyaksikan bagaimana para teman tuli menampilkan sebuah pertunjukan paduan suara.
Gagasan Gempata lahir dari keyakinan bahwa penyandang disabilitas tuli bukan berarti tidak memiliki suara. Mereka dinilai tetap dapat belajar dan mengekspresikan diri melalui nyanyian dengan cara mereka sendiri. Ide tersebut kemudian dikembangkan oleh para seniman dan akademisi dari Institut Kesenian Makassar (IKM) serta Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Sulawesi Selatan. Kegiatan ini juga mendapat dukungan pendanaan dari Dana Abadi Indonesiana.
Penggagas kegiatan, Alifullah, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyelenggaraan pertunjukan. Menurutnya, keberhasilan Gempata merupakan hasil kerja bersama yang melibatkan tim pelaksana, para peserta dari Gerkatin Makassar, pelatih, serta dukungan Institut Kesenian Makassar yang menjadi lokasi latihan selama 35 hari.
“Gempata menunjukkan bahwa seni adalah milik semua orang, bahwa bersuara tidak harus selalu melalui kata-kata. Kesenian mengajarkan kita makna kebersamaan,” ujar Alifullah dengan penuh haru.
Dalam pertunjukan tersebut, para peserta tidak hanya diajak mengeluarkan suara untuk menciptakan harmoni bersama. Mereka juga menampilkan berbagai gerakan koreografi dan adegan teatrikal yang memperkuat pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.
Koreografer pertunjukan, Ariyanti Sultan, menjelaskan bahwa unsur teatrikal menjadi bagian penting dalam keseluruhan konsep pementasan. Menurutnya, terdapat lima babak yang masing-masing memiliki makna tersendiri dan dirancang agar dapat dipahami oleh penonton.
“Pada intinya yang ingin disampaikan adalah bahwa mereka juga bisa bersuara dan mengekspresikan dirinya melalui seni,” kata Ariyanti yang juga merupakan Direktur Studio Ranarira.
Proses latihan menjadi pengalaman berharga bagi para peserta. Banyak di antara mereka yang baru menyadari bahwa mereka juga memiliki kemampuan untuk menghasilkan suara dan mengekspresikannya secara artistik. Selama masa latihan, para peserta menunjukkan antusiasme dan keseriusan yang tinggi, mulai dari latihan pernapasan, gerak tubuh, hingga latihan vokal.
Hasilnya terlihat saat mereka tampil di atas panggung. Meski sebagian besar baru pertama kali tampil dalam sebuah pertunjukan seni, para peserta mampu menunjukkan penampilan yang maksimal. Raut kebahagiaan pun tampak jelas setelah pertunjukan berakhir dan mendapat apresiasi meriah dari penonton.
Melalui Gempata, para penyelenggara berharap lahir lebih banyak gagasan seni yang inovatif dan inklusif di bidang kebudayaan. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi bagi penyandang disabilitas tuli, tetapi juga menghadirkan pesan kemanusiaan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk didengar, berkarya, dan menyuarakan dirinya.
Lebih dari sekadar pementasan seni, Gempata menjadi sebuah penanda bahwa suara tidak selalu lahir dari kata-kata. Dalam harmoni yang mereka bangun bersama, para teman tuli menunjukkan bahwa ekspresi, keberanian, dan kemanusiaan dapat melampaui batas-batas yang selama ini dianggap ada.
Tidak ada komentar