
Jakarta, 31 Oktober 2025 — Teknologi kecerdasan buatan (AI) kembali menuai kontroversi. Setelah OpenAI merilis aplikasi video generatif bernama Sora, gelombang kritik datang dari pakar, industri hiburan, hingga lembaga privasi. Teknologi yang mampu mengubah teks menjadi video realistis ini disebut membuka risiko besar terhadap penyalahgunaan wajah, suara, dan karya manusia.

Dilansir The Guardian, Sabtu (4/10), sejumlah video hasil Sora menampilkan adegan kekerasan, kerusuhan, hingga tokoh publik yang tampak nyata — padahal seluruhnya hasil buatan AI.
“Teknologi ini tidak memiliki kesetiaan terhadap fakta sejarah, tidak punya hubungan dengan kebenaran,” ujar Joan Donovan, asisten profesor di Boston University yang meneliti manipulasi media dan misinformasi.
“Pengamannya tidak nyata,” tambahnya, menyoroti lemahnya sistem penjagaan terhadap konten berbahaya.
Kekhawatiran serupa juga datang dari industri hiburan Hollywood. Dalam pernyataan resmi pada 9 Oktober 2025, agensi ternama Creative Artists Agency (CAA) menyebut bahwa Sora AI “menimbulkan risiko besar bagi hak cipta dan penghasilan kreator.”
“Pertanyaannya adalah, apakah OpenAI percaya bahwa manusia — penulis, seniman, aktor, sutradara, produser, musisi, dan atlet — pantas mendapatkan imbalan dan kredit atas karya yang mereka ciptakan?” tulis CAA dalam pernyataannya yang dikutip Reuters (9/10).
Aktor peraih penghargaan Emmy, Bryan Cranston, juga turut bersuara melalui laporan The Guardian (21/10).
“Saya sangat khawatir, bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk semua pelaku seni yang karya dan identitasnya bisa disalahgunakan dengan cara seperti ini,” kata Cranston.
“Saya berterima kasih kepada OpenAI atas kebijakan dan upayanya memperbaiki sistem pengaman,” lanjutnya.
Menanggapi polemik tersebut, pihak OpenAI dalam blog resminya bertanggal 30 September 2025 berjudul “Launching Sora Responsibly”, menyatakan telah menerapkan sejumlah langkah mitigasi. Di antaranya menambahkan watermark yang terlihat, metadata C2PA, serta pembatasan terhadap pembuatan video yang menyerupai individu nyata tanpa izin.
“Kami berkomitmen memastikan Sora digunakan secara aman dan etis,” tulis OpenAI dalam laman resminya. “Model ini tidak diperbolehkan meniru wajah publik, menciptakan kekerasan, atau menghasilkan konten yang menyesatkan.”
Meski begitu, banyak pakar menilai langkah tersebut masih belum cukup. Donovan menegaskan, tanpa transparansi penuh dan regulasi global, ancaman disinformasi berbasis video AI akan semakin sulit dikendalikan.
“Ancaman terbesarnya bukan pada teknologinya, tetapi pada siapa yang menggunakannya,” ujarnya.
Tidak ada komentar