Lebaran Betawi: Antara Tradisi, Akulturasi, dan Ingatan Leluhur

3 menit membaca View : 33
REDAKSI EKSEKUTIF
Opini - 06 Apr 2026

Oleh: Azis Khafia (Kaukus Muda Jakarta)

Lebaran sering dipahami semata sebagai perayaan keagamaan umat Islam. Namun, dalam konteks masyarakat Betawi, Lebaran menyimpan lapisan makna yang lebih dalam—ia adalah simpul antara tradisi, sejarah, dan identitas kultural yang telah teranyam jauh sebelum Islam hadir.

Jejak historis menunjukkan bahwa masyarakat Betawi, yang pada mulanya hidup sebagai komunitas agraris, telah mengenal tradisi perayaan panen. Momen panen bukan hanya soal hasil bumi, tetapi juga tentang rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur. Ketika Islam datang dan berakar kuat, tradisi ini tidak dihapus, melainkan diolah dan diselaraskan. Dari sinilah Lebaran menemukan bentuknya yang khas di tanah Betawi: sebuah perayaan religius yang tetap memelihara ingatan kolektif terhadap asal-usul.

Idul Fitri, dalam pemaknaan Betawi, bukan sekadar kembali ke fitrah, tetapi juga kembali kepada jati diri. Tradisi seperti ngored—membersihkan makam—dan ziarah menjadi wujud nyata bagaimana generasi kini menjalin komunikasi simbolik dengan para pendahulu. Dalam perspektif ini, kematian bukanlah keterputusan total, melainkan perpindahan dimensi. Leluhur tetap “hadir” dalam ruang sosial dan spiritual masyarakat.

Menariknya, identitas keislaman Betawi tidak menjadikannya eksklusif secara budaya. Justru, meja makan Lebaran menjadi bukti nyata keterbukaan itu. Nastar, kastengel, hingga kue semprit adalah warisan pengaruh Eropa, terutama Belanda dan Jerman. Semur, sebagai hidangan khas Betawi, mencerminkan pertemuan cita rasa Belanda dan Tionghoa. Bahkan minuman seperti sirup memiliki akar bahasa Arab dan Latin, sementara tradisi “ngeteh” merefleksikan pengaruh Tionghoa. Semua ini menunjukkan bahwa Betawi tumbuh dari perjumpaan, bukan penolakan.

Lebaran, dalam konteks ini, adalah ruang akulturasi yang hidup. Ia tidak memurnikan budaya dengan cara menghapus, melainkan dengan merangkul dan menyesuaikan. Identitas Betawi justru menjadi kuat karena kemampuannya menyerap, mengolah, dan memberi makna baru pada setiap pengaruh yang datang.

Namun, di balik kekayaan itu, ada ironi yang tak bisa diabaikan. Tradisi bebersih—mandi bersama di kali sebelum Ramadan—perlahan hilang seiring rusaknya ekosistem sungai di Jakarta. Ini bukan sekadar hilangnya ritual, tetapi juga hilangnya relasi intim antara manusia Betawi dengan alamnya. Modernisasi yang tak terkendali telah menggerus bukan hanya lingkungan, tetapi juga ingatan budaya.

Pada titik ini, Lebaran Betawi seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan atau sekadar agenda festival. Ia harus dibaca sebagai pesan peradaban. Betawi bukan hanya tentang ondel-ondel, lenong, atau ornamen budaya yang ditampilkan sesaat. Ia adalah ruh—sebuah energi kultural yang menyimpan nilai-nilai keterbukaan, penghormatan pada leluhur, serta harmoni dengan alam.

Maka, merawat Lebaran Betawi berarti merawat identitas itu sendiri. Bukan dengan membekukannya dalam romantisme masa lalu, tetapi dengan menghidupkannya kembali dalam konteks zaman. Sebab, di tengah arus globalisasi yang serba cepat, justru kearifan lokal seperti inilah yang dapat menjadi jangkar—menjaga kita tetap berpijak, tanpa kehilangan arah.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS