Bamus Betawi 1982 Sambangi Kesultanan Tidore, Bahas Kedekatan Budaya Serumpun

2 menit membaca View : 165
REDAKSI EKSEKUTIF
Nasional, News Redaksi, Sosial - 26 Nov 2025

REDAKSI ONLINE, Tidore Rangkaian Muhibah Budaya Bamus Suku Betawi 1982 berlanjut ke Kesultanan Tidore, Maluku Utara, Rabu (26/11/2025). Rombongan tiba setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit menggunakan speedboat dari Pelabuhan Bastiong, Ternate.

Dalam perjalanan, rombongan melintasi Pulau Maitara yang dikenal sebagai gambar di uang Rp1.000 sebelum akhirnya merapat di Pelabuhan Rum, Pulau Tidore. Dari sana perjalanan berlanjut sekitar 30 menit menuju Keraton Kesultanan Tidore.

Sesampainya di keraton, rombongan disambut Perdana Menteri Kesultanan Tidore, Jou Jau Ishak Nasir, beserta pejabat kesultanan. Suasana semakin khidmat ketika Sultan Tidore ke-37, Sultan Haji Husain Syah, hadir untuk menerima langsung kedatangan para tamu.

“Tiada kata yang lebih indah kecuali rasa syukur atas kehadiran tamu yang mulia dari Bamus Suku Betawi 1982 yang datang dari Jakarta. Insyaallah silaturahmi ini membawa berkah,” ujar Sultan membuka sambutannya.

Sultan kemudian memaparkan sejarah Kesultanan Tidore mulai dari abad ke-11, asal-usul nama Tidore, proses Islamisasi oleh pendakwah dari Jawa pada abad ke-15, hingga transformasi dari kerajaan Kolano menjadi kesultanan di bawah Sultan Jamaluddin.

Sultan juga menyinggung perjuangan Sultan Nuku yang memimpin perlawanan terhadap Belanda selama 25 tahun, serta ulama besar Tidore, Abdullah Kadi Abdus Salaam, yang berdakwah hingga Afrika Selatan dan mendapat gelar Pahlawan Nasional oleh Nelson Mandela.

Tak ketinggalan, Sultan turut menyebut anugerah gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Zainal Abidin Syah oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025, atas jasanya sebagai gubernur pertama Irian Barat.

Rombongan Bamus Suku Betawi 1982 dipimpin Ketua Umum Haji Zaenudin, didampingi Sekjen Muhamad Ihsan, serta anggota Majelis Adat H. Zamakh Sari dan R. Ida Wara Suprida. Pengurus daerah dari Jakarta dan Riau juga turut hadir.

Haji Zaenudin mengatakan kunjungan ini bertujuan mempererat hubungan budaya serumpun antara Betawi dan Tidore yang dinilai memiliki banyak kesamaan, mulai dari agama, adat, hingga bentuk arsitektur.

“Adat istiadat dan akhlak adalah akar bangsa. Karena itu budaya harus dipelihara agar bangsa ini kuat,” kata Zaenudin.

Ia juga membuka rencana penyusunan buku terkait Muhibah Budaya ini sebagai warisan bagi generasi muda Betawi dan Tidore.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS