
Oleh: Achmad Donny, S.AP.

Bendahara Umum PB SEMMI Periode 2023–2026
“Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.” Kalimat yang diwariskan H.O.S. Tjokroaminoto tersebut bukan sekadar petuah moral, melainkan fondasi bagi lahirnya kepemimpinan yang berakar pada ilmu, iman, dan keberanian. Dari rahim pemikiran itulah tumbuh salah satu mata rantai penting gerakan kebangsaan Indonesia, yakni Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI).
Di tengah derasnya arus globalisasi, revolusi digital, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), serta kompetisi geopolitik yang semakin kompleks, pertanyaan mengenai relevansi organisasi kemahasiswaan kerap mengemuka.
Sebagian menilai organisasi mahasiswa telah kehilangan daya pengaruhnya. Aktivisme dianggap kalah oleh media sosial, ruang diskusi tergeser oleh algoritma, dan idealisme mulai dikalahkan oleh pragmatisme politik.
Namun, sejarah Indonesia justru menunjukkan hal yang berbeda. Setiap perubahan besar dalam perjalanan bangsa ini selalu diawali oleh lahirnya generasi muda yang memiliki kesadaran kolektif, keberanian moral, dan organisasi sebagai wadah perjuangan.
Tidak ada kebangkitan nasional tanpa gerakan pemuda. Tidak ada reformasi tanpa mahasiswa. Tidak ada perubahan tanpa kader yang dipersiapkan melalui proses panjang.
Dalam konteks itulah, sejarah SEMMI tidak layak dipandang hanya sebagai catatan internal organisasi. SEMMI merupakan bagian dari perjalanan panjang Sarekat Islam, organisasi modern pertama yang membangunkan kesadaran politik, ekonomi, dan sosial masyarakat bumiputra.
Memahami SEMMI berarti memahami kesinambungan gagasan besar tentang bagaimana umat Islam, kaum intelektual, dan generasi muda mengambil bagian dalam membangun Indonesia yang merdeka, berkeadilan, dan berdaulat.
Dari Sarekat Dagang Islam Menuju Kebangkitan Bangsa
Akar sejarah SEMMI berawal dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan Haji Samanhoedi pada 16 Oktober 1905 di Surakarta. Pada masa itu, masyarakat bumiputra menghadapi tekanan ekonomi akibat sistem kolonial yang tidak memberikan ruang berkembang bagi pengusaha pribumi.
SDI lahir sebagai gerakan ekonomi berbasis solidaritas, namun dalam waktu singkat berkembang menjadi gerakan sosial dan politik yang memiliki pengaruh besar.
Transformasi tersebut mencapai puncaknya ketika H.O.S. Tjokroaminoto memimpin organisasi yang kemudian dikenal sebagai Sarekat Islam.
Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam tidak hanya memperjuangkan kepentingan ekonomi rakyat, tetapi juga membangun kesadaran politik, pendidikan, dan harga diri bangsa.
Tjokroaminoto meyakini bahwa kemerdekaan sejati tidak cukup diraih melalui pembebasan politik semata. Kemerdekaan harus disertai dengan kemandirian ekonomi, pembangunan karakter, dan pendidikan yang melahirkan manusia berintegritas.
Dari rumah sederhana Tjokroaminoto di Surabaya lahirlah tokoh-tokoh besar bangsa seperti Soekarno, Musso, Alimin, hingga Kartosoewirjo.
Meski kemudian menempuh jalan politik yang berbeda, mereka pernah ditempa dalam tradisi berpikir yang sama, yakni ilmu pengetahuan, keberanian moral, dan keberpihakan kepada rakyat.
Warisan intelektual inilah yang kemudian melahirkan kebutuhan akan organisasi kader di lingkungan perguruan tinggi.
Lahirnya SEMMI sebagai Organisasi Kader
Kesadaran akan pentingnya regenerasi melahirkan keputusan bersejarah dalam Kongres Nasional Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) ke-XXIX di Solo pada April 1955.
Dari forum tersebut muncul gagasan mendirikan organisasi mahasiswa sebagai wadah pembinaan kader intelektual Muslim yang mampu melanjutkan cita-cita Sarekat Islam.
Gagasan itu diwujudkan pada 2 April 1956 ketika Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) resmi dideklarasikan di Jakarta.
Pemilihan nama “Sarekat” dengan ejaan lama bukanlah sebuah kebetulan. Pilihan tersebut merupakan penegasan bahwa SEMMI merupakan mata rantai perjuangan Sarekat Islam.
Sejak awal berdiri, SEMMI dirancang bukan sekadar organisasi mahasiswa yang aktif di lingkungan kampus, melainkan laboratorium kepemimpinan yang memadukan nilai-nilai keislaman, nasionalisme, intelektualitas, dan pengabdian kepada masyarakat.
Relevansi SEMMI di Era Indonesia Modern
Indonesia abad ke-21 menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan generasi pendiri bangsa. Kolonialisme telah berakhir, tetapi ketergantungan ekonomi, dominasi teknologi asing, disinformasi digital, polarisasi politik, hingga rendahnya literasi publik menjadi tantangan baru yang harus dihadapi.
Karena itu, makna berdikari hari ini tidak lagi sebatas slogan historis. Berdikari berarti mampu mengelola sumber daya nasional, memperkuat industri dalam negeri, mengembangkan inovasi teknologi, memberdayakan UMKM, dan menciptakan lapangan kerja bagi rakyat Indonesia.
Begitu pula dengan makna berdaulat. Kedaulatan tidak hanya berarti menjaga batas wilayah negara, tetapi juga menjaga demokrasi dari politik uang, oligarki, manipulasi informasi, serta ancaman yang dapat memecah persatuan bangsa. Di sinilah organisasi kader seperti SEMMI memiliki peran strategis.
SEMMI harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya kritis, tetapi juga produktif dalam menghasilkan gagasan. Mahasiswa tidak cukup menjadi penyampai kritik. Mahasiswa harus menjadi produsen solusi.
Kritik tanpa solusi hanya akan menjadi gema sesaat. Sebaliknya, ilmu tanpa keberpihakan akan kehilangan makna sosial.
Karena itu, kaderisasi SEMMI harus melahirkan pemimpin yang memiliki integritas, kapasitas intelektual, kemampuan merumuskan kebijakan, serta keberanian mengabdi kepada masyarakat.
Menuju Indonesia Emas 2045
Indonesia sedang menuju satu abad kemerdekaan pada tahun 2045. Bonus demografi menjadi peluang besar yang harus dimanfaatkan melalui pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
Keberhasilan Indonesia Emas tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk usia produktif, tetapi juga oleh kualitas kepemimpinan yang lahir dari generasi mudanya.
Kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik. Kampus adalah ruang pembentukan karakter, integritas, kepemimpinan, dan tanggung jawab kebangsaan.
SEMMI memiliki modal sejarah yang kuat untuk menjalankan peran tersebut karena lahir dari tradisi panjang Sarekat Islam yang menempatkan ilmu pengetahuan, moralitas, dan keberpihakan kepada rakyat sebagai satu kesatuan.
Tujuh dekade setelah kelahirannya, tantangan terbesar SEMMI bukan lagi mempertahankan eksistensi organisasi, melainkan menjaga relevansi perjuangannya di tengah perubahan zaman.
Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kedalaman intelektual. Kecakapan politik harus dibangun di atas integritas moral. Aktivisme harus melahirkan pengabdian, bukan sekadar popularitas.
Warisan terbesar Sarekat Islam bukanlah bangunan organisasinya, melainkan tradisi berpikirnya. Tradisi yang mengajarkan bahwa ilmu harus berpihak kepada keadilan, agama harus melahirkan kemanusiaan, dan politik harus diabdikan untuk kesejahteraan rakyat.
Apabila nilai-nilai tersebut terus dihidupkan dalam kaderisasi SEMMI, organisasi ini tidak hanya akan dikenang sebagai bagian dari sejarah pergerakan nasional, tetapi juga akan menjadi salah satu kekuatan intelektual yang ikut menentukan arah Indonesia menjadi bangsa yang berdikari secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan bermartabat dalam pergaulan dunia.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bukanlah apakah SEMMI masih relevan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, apakah generasi muda Indonesia masih memiliki keberanian untuk mewarisi semangat Haji Samanhoedi, H.O.S. Tjokroaminoto, Arudji Kartawinata, dan para pendiri SEMMI: semangat membangun bangsa melalui ilmu pengetahuan, integritas, persaudaraan, serta pengabdian yang tulus kepada rakyat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tidak ada komentar