Menyusuri Empat Kampung di Salor, Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB Mencari Masa Depan Sagu

5 menit membaca View : 41
REDAKSI EKSEKUTIF
News Redaksi - 12 Agu 2026

MERAUKE — Sagu bukan sekadar tanaman pangan bagi masyarakat Marind. Di balik pohonnya terdapat adat, identitas, pengetahuan leluhur, sekaligus peluang ekonomi.

Hal itu menjadi temuan Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University setelah menyambangi empat kampung di kawasan Salor, Merauke, yakni Waninggap Nanggo, Matara, Urumb, dan Kuper. Tim berdiskusi dengan masyarakat, kepala kampung, serta tokoh adat untuk melihat bagaimana sagu dipertahankan, dimanfaatkan, dan dikembangkan.

Dari empat kampung tersebut, terlihat bahwa sagu memiliki persoalan dan kebutuhan yang berbeda. Namun, satu hal tetap sama: sagu masih menempati posisi penting dalam kehidupan masyarakat.

Di Kampung Waninggap Nanggo, pemanfaatan sagu tidak dapat dilepaskan dari aturan adat. Salah seorang warga mengatakan, menjual sagu bukan perkara sederhana karena menyangkut nilai yang diwariskan masyarakat.

“Masyarakat di sini kalau kita jual sagu, artinya kita sama saja menjual diri kita. Kita tidak bisa berbuat, karena proses jual beli harus ada persetujuan dari ketua adat.”

Di sisi lain, masyarakat mulai melihat sagu sebagai peluang untuk meningkatkan perekonomian. Robert, salah seorang warga, berharap ada dukungan untuk pengadaan alat penanaman sagu.

“Kalau adik-adik bisa membantu kami untuk pengadaan alat penanaman sagu, kami mau karena kami yakin potensi sagu bisa membantu ekonomi masyarakat.”

Persoalannya, jumlah sagu di wilayah tersebut mulai berkurang. Sejumlah kawasan sagu mengalami kebakaran. Ketika persediaan tidak mencukupi untuk kebutuhan adat, masyarakat bahkan harus mendatangkan sagu dari luar dengan harga lebih mahal.

Plt Ketua Kampung Waninggap Nanggo, Timotheus, mengatakan kebutuhan tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat.

“Jika masyarakat di sini kekurangan sagu untuk kegiatan adat, kami membeli dari luar pasar dengan harga yang mahal.”

Kondisi ini menunjukkan bahwa menjaga sagu bukan hanya soal mempertahankan budaya, tetapi juga memastikan ketersediaan pangan masyarakat.

Kondisi berbeda ditemukan di Kampung Matara. Populasi sagu di wilayah ini juga mengalami penurunan, salah satunya akibat kebakaran.

Pemerintah daerah memiliki perhatian untuk mendorong budidaya sagu. Namun, pengembangannya tetap perlu memperhatikan nilai adat dan melibatkan para tetua adat dalam proses pengambilan keputusan.

Di sisi lain, Matara memiliki sejumlah potensi ekonomi lain. Kelapa, pisang, ikan, dan udang menjadi komoditas yang dapat dikembangkan masyarakat. Potensi usaha mikro dan kecil juga mulai terlihat melalui produksi minyak goreng, VCO, keripik pisang, hingga kerajinan.

Bagi Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University, kondisi Matara menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi kampung tidak harus bergantung pada satu komoditas. Potensi lokal dapat dikembangkan secara beragam dengan tetap menempatkan sagu sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Di Kampung Urumb, pentingnya sagu ditegaskan Ketua Adat Xavierilius.

“Sagu itu merupakan makanan pokok yang tidak boleh punah, apalagi di Suku Marind.”

Ia juga menyatakan keterbukaan terhadap upaya pemerintah untuk menjaga keberadaan sagu.

“Kalau pemerintah mau mendorong untuk melestarikan sagu, itu tidak apa-apa.”

Masyarakat Urumb bahkan telah menyiapkan lahan yang direncanakan untuk dikembangkan menjadi kebun sagu. Lahan tersebut akan dirapikan dan diarahkan ke lokasi yang dekat dengan sumber air.

Namun, pembicaraan mengenai komersialisasi sagu masih membutuhkan kehati-hatian.

“Memang sagu itu manfaatnya banyak dan bisa diolah menjadi berbagai kuliner, tapi aturan adat yang sulit karena ada catatan sakral yang tidak boleh dilanggar.”

Karena itu, bagi masyarakat Urumb, langkah pertama bukan semata-mata menjadikan sagu sebagai komoditas ekonomi, melainkan memastikan tanaman tersebut tetap lestari dan tersedia bagi generasi berikutnya.

Di Kampung Kuper, sagu masih dapat ditemukan, tetapi tidak dalam bentuk hamparan kebun seperti sawah.

Ketua Kampung Kuper, Fransiska, mengatakan sebagian pohon sagu merupakan milik keluarga dan berada di sekitar rumah masyarakat.

“Di kampung ini sagu itu ada, tapi untuk kebun sagu itu tidak ada. Sagu yang ada sesuai dengan milik masyarakat, yang punya pohon sagu itu di rumah.”

Sebagian pohon juga merupakan peninggalan orang tua dan leluhur. Namun, hingga kini belum terdapat program pembibitan dan penanaman kembali yang dilakukan secara terstruktur.

Fransiska menilai sagu tetap menjadi tanaman penting bagi masyarakat Kuper.

“Sagu itu tanaman utama yang harus diberdayakan. Sagu ada, tapi tidak terlihat seperti hamparan sawah.”

Pengolahannya pun masih dilakukan secara tradisional. Biasanya, tiga hingga empat perempuan bekerja bersama dan membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk mengolah satu pohon sagu.

“Sagu itu sumber kehidupan dari zaman dulu, tapi sekarang kami malah tidak kuat untuk mengelola itu. Maka harus ada orang yang mengerti karena sebetulnya pakai cara tradisional itu rumit.”

Persoalan di Kuper menunjukkan bahwa tantangan sagu bukan hanya soal ada atau tidaknya pohon. Ada pula persoalan regenerasi, pembibitan, keterampilan, tenaga pengolah, teknologi, dan pendampingan.

Perjalanan Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University dari Waninggap Nanggo, Matara, Urumb, hingga Kuper memperlihatkan empat kondisi yang berbeda.

Waninggap Nanggo mulai melihat peluang ekonomi sagu, tetapi tetap menempatkan aturan adat sebagai batas penting. Matara memiliki sagu sekaligus beragam potensi lain seperti kelapa, pisang, ikan, udang, UMK, dan pariwisata. Urumb lebih menekankan pelestarian sagu sebagai sumber pangan dan bagian dari adat. Sementara Kuper menghadapi persoalan regenerasi, pembibitan, pengolahan tradisional, keterbatasan tenaga, dan pendampingan.

Perbedaan tersebut menjadi catatan penting bagi pengembangan sagu di Salor, Merauke. Sebab, tidak semua kampung membutuhkan pendekatan yang sama.

Pengembangan dapat dimulai dari pemetaan kawasan sagu, pembibitan, penanaman kembali, pemulihan kawasan yang terbakar, pelatihan budidaya, hingga peningkatan kemampuan pengolahan. Namun, seluruh langkah tersebut perlu dibicarakan bersama masyarakat dan tokoh adat.

Bagi Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University, perjalanan ini bukan sekadar menemukan potensi komoditas. Lebih dari itu, tim belajar bahwa pembangunan berbasis potensi lokal harus dimulai dengan memahami masyarakat yang hidup bersama potensi tersebut.

Sagu memang memiliki peluang ekonomi. Namun bagi masyarakat Marind, sagu juga merupakan pangan, adat, identitas, dan warisan leluhur.

Karena itu, pertanyaan tentang masa depan sagu bukan hanya bagaimana tanaman ini dapat dikembangkan menjadi komoditas. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana sagu dapat terus hidup, diwariskan, dan memberi manfaat tanpa kehilangan nilai yang selama ini dijaga masyarakat.

Oleh: Muhammad Akbar Almuchty

Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS