
Jakarta — Di tengah meningkatnya isu krisis iklim dan eksploitasi sumber daya alam, kelompok muda lintas organisasi menggelar diskusi publik bertajuk “Kongkow Bareng: Suara Alam Papua dari Kaum Muda”. Diskusi ini mengangkat tema “Masihkah Kesejahteraan Alam dan Sosial Terjamin?” sebagai refleksi atas kondisi lingkungan dan sosial terkini di Papua.

Kegiatan tersebut digelar secara daring melalui platform Zoom, Kamis malam (29/1/2026). Diskusi merupakan hasil kolaborasi Ekologi Sosial Institute Indonesia (ESII), Lingkar Studi Feminis (LSF), dan Antera Institute.
Diskusi menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang organisasi berbeda. Mario Mere dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) menyoroti peran mahasiswa dan gerakan pemuda Katolik dalam mengawal keadilan sosial di Papua.
Sementara itu, Eva Nur Cahyani dari Lingkar Studi Feminis (LSF) memaparkan perspektif feminis terkait keterkaitan antara kelestarian alam dan beban sosial yang dipikul perempuan di tingkat akar rumput.
Adapun Sopyan Taheer dari Antera Institute membedah analisis kebijakan pembangunan serta dampaknya terhadap ekosistem dan lingkungan asli Papua.
Diskusi dipandu oleh Elvy Farhati sebagai moderator, dengan pengantar diskusi disampaikan oleh Khoirotun Nisak dari Ekologi Sosial Institute Indonesia (ESII).
Khoirotun menjelaskan, kegiatan ini bertujuan memantik kesadaran kolektif masyarakat, khususnya generasi muda di luar Papua, agar lebih peduli terhadap isu marginalisasi dan kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah paling timur Indonesia.
“Melalui wadah Kongkow Bareng ini, kami ingin memastikan bahwa suara alam Papua dan masyarakatnya tidak terabaikan dalam narasi pembangunan nasional,” kata Khoirotun.
Kegiatan diskusi ini turut didukung oleh Redaksi Jakarta sebagai media partner. Bagi publik yang ingin mengetahui hasil diskusi lebih lanjut atau menjalin kolaborasi ke depan, dapat menghubungi penyelenggara melalui akun Instagram resmi @ekologisosial_institute.
Tidak ada komentar