Diskusi “Depok Krisis Identitas”: Deni Wahyudi Kritik Budaya Instan, Aban Dorong Aksi Nyata KNPI

2 menit membaca View : 79
REDAKSI EKSEKUTIF
News Redaksi, Politik, Sosial - 13 Nov 2025

REDAKSI ONLINE, Depok — Penulis buku dan penggiat literasi Deni Wahyudi menyoroti fenomena krisis identitas di kalangan pemuda Depok di tengah derasnya arus digitalisasi dan bonus demografi.

Hal itu disampaikan dalam diskusi kepemudaan bertajuk “Depok Krisis Identitas & Bonus Demografi” yang digelar Margonda Strategic Studies (MSS) di Kafe Interaksi Space, Depok, 13/11/2025.

Menurut Deni, Depok sebenarnya memiliki potensi besar dengan populasi muda yang dominan dan tingkat pendidikan tinggi, namun banyak di antara mereka kehilangan arah.

Fenomena budaya instan, pencarian validasi sosial di media digital, dan menurunnya partisipasi dalam organisasi kepemudaan disebut menjadi tanda lemahnya literasi kritis dan semangat kebangsaan.

“Kita tidak sedang kekurangan potensi — kita sedang kekurangan arah,” ujar Deni.

Ia menekankan pentingnya revitalisasi ruang literasi dan dialog pemuda melalui gerakan literasi komunitas di tingkat kelurahan, digitalisasi positif bagi Gen Z, serta kolaborasi lintas komunitas untuk membangun kreativitas dan produktivitas di era digital.

Dalam forum yang sama, Ketua DPD KNPI Kota Depok Nurcholish Syahbani (Aban) menegaskan legalitas kepemimpinannya usai menerima SK resmi dari DPD KNPI Jawa Barat.

Aban juga menegaskan komitmen KNPI untuk ikut menjawab persoalan pendidikan dengan meluncurkan Program Sekolah Gratis bagi anak-anak putus sekolah tahun depan.

Program tersebut akan menyediakan empat kelas paket A, B, dan C bagi sekitar 120 peserta didik, dengan dukungan para donatur agar bisa berjalan berkelanjutan selama tiga tahun.

Aban menambahkan, pihaknya ingin agar KNPI tidak sekadar menjadi simbol organisasi kepemudaan, melainkan hadir nyata bagi masyarakat.

“Kami ingin KNPI kembali dekat dengan rakyat, bukan hanya aktif di seremonial,” ujarnya.

Diskusi ini diakhiri dengan penegasan bahwa sinergi antara literasi, kepemudaan, dan aksi sosial menjadi kunci menghadapi krisis identitas generasi muda Depok di era bonus demografi. (Red)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS