Gaya Hidup Baru Anak Muda: “Slow Living” Jadi Tren Urban di 2025

2 menit membaca View : 90
REDAKSI EKSEKUTIF
Lifestyle, News Redaksi - 01 Nov 2025

Jakarta, 1 November 2025 – Fenomena gaya hidup “slow living” kini menjadi tren baru di kalangan anak muda perkotaan.

Konsep hidup yang menekankan keseimbangan antara produktivitas dan ketenangan batin ini semakin populer di tengah tekanan pekerjaan, tuntutan digital, dan gaya hidup cepat yang mendominasi kota besar.

Menurut laporan terbaru dari platform gaya hidup Urban Insight 2025, pencarian daring terkait istilah slow living meningkat lebih dari 200 persen sepanjang tahun ini. Tren ini menunjukkan perubahan orientasi masyarakat muda dari pencapaian materi ke kesejahteraan emosional dan keberlanjutan hidup.

Hidup Lebih Pelan, Lebih Bermakna

Gaya hidup slow living bukan berarti malas atau tidak produktif, tetapi mengajarkan individu untuk menikmati proses, memperhatikan kesehatan mental, dan membangun hubungan sosial yang lebih berkualitas.

“Anak muda sekarang mulai sadar bahwa kesuksesan bukan hanya soal karier, tapi juga tentang keseimbangan hidup dan ketenangan diri,” ujar psikolog gaya hidup, Dr. Rani Widyastuti.

Rani menjelaskan bahwa slow living biasanya diwujudkan lewat kebiasaan sederhana, seperti mengurangi penggunaan gawai, meluangkan waktu di alam, memasak makanan sendiri, hingga memperbanyak waktu refleksi diri dalam keterangan di media sosial baru-baru ini.

Tren Baru di Dunia Digital dan Fashion

Fenomena ini juga merambah ke industri fashion dan digital. Banyak merek lokal kini mengusung konsep keberlanjutan atau sustainable fashion dengan desain minimalis, bahan alami, dan produksi terbatas.

Di sisi lain, media sosial juga ikut menyesuaikan diri. Muncul banyak kreator konten yang membagikan rutinitas sederhana seperti “morning slow routine”, “digital detox day”, atau “weekend tanpa notifikasi”.

“Gaya hidup pelan ini justru membuat kita lebih kreatif dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting,” ujar Dita Permata, seorang content creator gaya hidup sehat yang memiliki lebih dari 500 ribu pengikut di Instagram.

Dorongan Ekonomi Kreatif Berbasis Mindful Living

Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, tren slow living turut mendorong tumbuhnya sektor ekonomi baru berbasis gaya hidup sadar (mindful living). Kafe bertema tenang, ruang meditasi, dan wisata alam berbasis ketenangan mulai banyak bermunculan di kawasan Bogor, Yogyakarta, dan Bali.

“Slow living bisa menjadi kekuatan ekonomi baru jika dikembangkan dengan pendekatan kreatif dan berkelanjutan,” ungkap Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam keterangan resminya pada pekan lalu.

Kesadaran Baru di Era Serba Cepat

Fenomena ini membuktikan bahwa generasi muda semakin bijak dalam menata hidup. Di tengah tekanan digital, mereka memilih untuk memperlambat ritme, menemukan makna, dan menciptakan kehidupan yang lebih tenang dan berkelanjutan.

“Slow living bukan tren sesaat, tapi bentuk perlawanan lembut terhadap stres modern,” tutup Dr. Rani.

Sumber: Urban Insight 2025, redaksionline.co.id, Kemenparekraf

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS