
REDAKSI ONLINE, Jakarta — Pemuda Kaum Betawi menggelar silaturrahim dan diskusi strategis bersama Ketua KPU Provinsi DKI Jakarta, Wahyu, sebagai bagian dari upaya penguatan kesadaran dan partisipasi politik pemilih muda Betawi secara berkelanjutan.

Kegiatan ini menegaskan bahwa pendidikan dan keterlibatan politik pemuda bukan agenda sesaat, melainkan kerja panjang dalam membangun kualitas demokrasi.
Pertemuan tersebut menegaskan bahwa suara generasi muda bukan sekadar pelengkap demokrasi, melainkan kekuatan penentu arah konstitusi dan masa depan pilar-pilar kenegaraan.
Di tengah tantangan demokrasi yang semakin kompleks, keterwakilan pemuda, khususnya pemuda Betawi, menjadi pekerjaan rumah bersama yang tidak boleh diabaikan.
Demokrasi yang sehat hanya dapat tumbuh apabila generasi mudanya hadir secara sadar, aktif, dan berdaya.
Diskusi berlangsung dalam suasana dialogis dan terbuka. Sejumlah isu dibahas, mulai dari pentingnya membangun demokrasi yang ramah pemuda, inklusif, hingga substantif.
Pemuda dinilai tidak boleh terus ditempatkan sebagai objek mobilisasi politik, tetapi harus didorong menjadi subjek demokrasi yang berkontribusi dalam pengawasan, perumusan gagasan, serta penentuan arah kebijakan publik.
Ketua Umum Pemuda Kaum Betawi, Masykur Isnan, menegaskan bahwa penguatan peran pemilih muda Betawi merupakan investasi demokrasi jangka panjang.
“Demokrasi tidak boleh hidup hanya saat pemilu. Pemuda Betawi harus dibangun kesadarannya sejak dini agar menjadi kekuatan kritis yang konsisten mengawal nilai-nilai keadilan, partisipasi, dan keberpihakan pada rakyat,” tegas Masykur.
Pemuda Kaum Betawi juga menyampaikan apresiasi kepada KPUD Jakarta atas keterbukaan dan arahan yang diberikan.
Silaturrahim ini diharapkan menjadi fondasi kolaborasi berkelanjutan antara penyelenggara pemilu dan generasi muda Betawi dalam membangun demokrasi yang hidup, inklusif, dan berkeadilan.
Tidak ada komentar